HD video in DSLR – Evolusi atau Revolusi ?

Once upon a time, bila kita berbicara tentang kamera DSLR, maka bahasan video recording bisa dibilang OOT alias Out Of Topic. Kala itu jargonnya adalah Video is not DSLR.

Kalangan pro dan enthusiast akan menyunggingkan senyum sinis bila seorang amateur menanyakan hal bodoh “Kenapa gak ada fungsi rekam video di DSLR? kan oke banget tuh kalo ada?”. Jawaban melecehkan bisa jadi sbb ” tole tole…piye sampeyan ini? kalo mo dapet foto bagus ya pake de es el er, lha kalo mo rekam pidiyo, ya beli handycam sana! sampeyan ini mo motret apa mo bikin film? motret ya motret, vidio ya vidio. ga bisa dua duanya donk! ngerti ora son?” Jawaban yg lebih teknis mungkin sbb ” hmm..nampaknya sulit untuk bisa membuat kamera yang sama sama unggul dalam hal hasil foto dan kualitas video. perlu teknologi yang rumit tentang bagaimana lensa bla bla bla.. sementara sensor bla bla bla…”

Pada intinya, DSLR bukan untuk merekam video.

Back to the future, eh ke masa kini, apa yang kita lihat? Benar sekali jawaban anda! telah ada DSLR ada yg bisa merekam video!!! kualitasnya ? VGA ? XVGA? No no no… Ha De alias HD alias High Definition. Seperti biasa, teknologi itu Ruarrrrrr biasa bukan? Diawali oleh Sony dgn A700, lalu diikuti oleh sesepuh DSLR, Nikon dengan D90 dan Canon dengan EOS 5D mII, sampai produk akhir saat artikel ini saya ketik, adalah Nikon D5000.

Artinya? artinya teknologi itu sudah ada “sejak dulu”. Hanya karena marketing policy dan taktik penjualan dari para produsen yang menilai nilai keuntungan dari pasar DSLR konvensional dan camdig pocket masih sangat ‘banyak’ dan sayang untuk tidak ‘dihabiskan’ terlebih dahulu. So, there is no rush for video in DLSR, alias belum waktunya.

Geliat “gambar bergerak” yg tadinya adalah tabu dalam paket DSLR mulai terasa ketika Olympus memperkenalkan DLSR dgn teknologi live view alias real time image pada layar kamera. Sebuah teknologi yang cukup usang bila melihat bahwa hal ini telah lama diterapkan pada camdig level pocket dan prosumer. (bersambung)

Mega Pixel, Pentingkah ?

Mega Pixel, Pentingkah ?

Dalam perkembangannya, teknologi kamera digital mengalami perkembangan yang amat pesat.
Dalam dunia imaging dan kamera digital, seringkali terlintas istilah PIXEL. Berapa megapixel (mp) kemampuan rekam kamera anda ? 3mp, 6mp, 10mp, 12 mp?
Mungkin dalam perbincangan sering kita mendengar ” Jangan beli kamera yang mp nya kecil, hasil gambarnya jelek. beli yang lebih besar, lebih bagus, lebih tajam “. Hm, benarkah demikian ?
Apa sebenarnya pixel itu? Saya tidak akan membahasnya terlalu detail, terlalu teknis dan memusingkan bagi kita. We are end user, not developer scientist right ? All we have to do is enjoying the product they’ve created.
Singkatnya, pixel itu = titik. Ya, titik. Meski bila dicermati bentuknya tidak bundar, tapi persegi. ada yang segi empat, ada yang segi enam sarang tawon.Pernah lihat teknik melukis dengan cara membuat ribuan titik titik yang akhirnya membentuk suatu gambar? Semakin rapat titik titik, semakin halus dan presisi lukisan yang dihasilkan. Seperti itulah cara kamera digital memproses gambar sehingga menjadi foto yang kita lihat.
Jadi betul donk, harus beli kamera yang resolusi pixelnya tinggi kalau mau image yang tajam dan bagus?
Betul, kalau anda ingin melihat hasil foto anda tetap tajam walau dizoom sampai sebesar papan iklan raksasa di tepi jalan.
Pertanyaannya? monitor sebesar apa yang anda bisa pakai untuk hal itu? Berapa besar ukuran monitor anda sekarang? 17inch, 21inch, atau mungkin 32inch? rasanya saat menatap layar komputer, dalam jarak 50 cm, mata anda tidak akan bisa mengcover seluruh bidang monitor lebih dari 21 inch.
Mata kita merupakan lensa yang sempurna, namun teknik digital bisa ‘menipu’ mata kita. Ada batasan dimana mata kita tidak mampu membedakan 2 gambar yang dihasilkan dengan resolusi yang berbeda. Semakin kecil bidang gambar, semakin sulit membedakan kualitas dari 2 gambar digital yang berbeda resolusinya. Apalagi bila telah dicetak dalam ukuran yang umum (postcard atau A4).

Hal lain adalah pengaruhnya pada saat melakukan saving image. Image dengan resolusi lebih tinggi tentunya memerlukan waktu saving lebih lama. Tahukah anda bahwa pada saat kita melakukan continuos shoot (foto secara simultan dalam satu detik), kebanyakan system kamera akan secara otomatis mengurangi settingan resolusinya ke tingkat yang bisa mendukung kecepatan yang dijanjikan. Misalnya dijanjikan bahwa kamera anda yg mempunyai resolusi maksimal 12 mp mampu melakukan continous shoot 5fps (5 frame image per detik). Silahkan cek di manual booknya, apakah 5fps tsb mampu dilakukan dengan settingan resolusi tertinggi 12mp? Sebagai referensi, Nikon D3 yang merupakan salah satu top level kamera DSLR Nikon saat ini, tentunya dengan harga selangit, berkemampuan 12mp. Dan mampu melakukan continous shoot sampai 11 fps! Luar biasa! TAPI, dengan catatan, resolusi diturunkan menjadi 5mp.
Kalau kamera high end saja begitu, apalagi kamera mid level / low level yang dimiliki kebanyakan orang?
Ada sebagian kalangan yang memandang perlu resolusi tinggi untuk keperluan cropping image, yaitu mengambil image yang diperlukan saja dari sebuah foto, tanpa menurunkan kualitasnya. Well, bagi saya 6mp tetap bisa menjaga hasil cropping. Lagipula, bila ingin dapat detail untuk suatu objek, do the macro thing! Buat apa ada fungsi makro di kamera digital?
Personally, bagi saya yang bukan kalangan profesional, yang hanya melihat hasil foto di layar pc berukuran 17inch, kamera 6mp sudah sangat menyenangkan baik secara performa maupun kualitas hasil fotonya. Selisih 2 juta sampai 3 juta antara kamera beresolusi 6mp dengan 10mp rasanya lebih baik digunakan untuk membeli peralatan lain, seperti lensa dan flash.

Jadi, masih perlukah kamera 10mp kalau nantinya hanya mencetak foto ukuran postcard atau A4?

Kiat memilih kamera poket

Memilih kamera digital pocket yang berkualitas ?
Pasti anda sudah banyak membaca review ataupun rekomendasi di internet
Disini saya hanya akan mempersingkatnya dalam versi saya.

Satu yang utama adalah :
Ada uang ada Barang – Sudah sangat jelas. Semakin bagus kualitas komponen, semakin mahal harga kamera.

Nah karena hal itu sudah sangat jelas, maka sebenarnya tidak sulit memilih kamera yang berkualitas.

Namun bagi anda yang ‘picky’ ataupun sangat ‘budget concern’ ada beberapa tips yang bisa dipertimbangkan. Tidak banyak agar tidak terlalu memusingkan.

1. Lensa
Sudah pasti, lensa harus menjadi pertimbangan utama. Bila merk yang anda incar, bukan dari major brand, pastikan lebih dahulu buatan mana lensanya. Kalau tidak jelas, lebih baik anda ganti incaran anda, daripada menyesal kemudian. Kemampuan OPTICAL zoom (tele) lensa 4x zoom, sudah cukup. Lebih dari itu akan susah menghasilkan foto yang tajam. Pastikan Optical, bukan digital. Lho kok? Ya karena zooming secara optical (dengan mekanisme lensa) lebih bagus hasilnya daripada pendekatan olah digital. Bila ternyata lebih dari 4x, pastikan kamera sudah dilengkapi teknologi anti shake atau image stabilisation yang berguna untuk mereduksi gejala blur yang umum terjadi pada saat memotret dalam mode zoom. Akan lebih baik bila anda bisa mendapatkan lensa wide dibawah standar 28mm, misalnya 26mm atau 24mm karena dengan jarak lebih dekat, masih bisa mencakup bidang foto bisa lebih luas. Bukankah anda akan lebih sering memotret dalam jarak 1 sampai 5 meter. Jadi lensa zoom tidak akan terlalu berguna.
Anda tidak puas dengan zoom yang pendek? Bila demikian, anda lebih baik mempertimbangkan kamera kelas Prosumer. Namun secara ukuran biasanya tidak lagi pocket size, alias terlalu besar untuk dikantongi.

2. Auto Focus
Semakin cepat kamera mencari fokus paling tajam pada saat anda membidik objek, maka semakin menyenangkan bagi anda dan semakin mudah menghasilkan gambar yang berkualitas dan tajam. Beberapa kamera sangat bagus hasilnya namun, harus beberapa kali shoot dikarenakan autofokus yang lamban ataupun salah fokus.

3. Battery
Bila menggunakan batere AA akan memudahkan anda mengganti batere. Karena mudah didapatkan dimana mana. Untuk performa maksimal dan tahan lama, pastikan setidaknya jenis Alkaline. Ada yang Lithium, namun harganya mahal. Ada juga AA yang rechargable alias bisa diisi ulang. Namun anda (umumnya) harus membeli terpisah unit chargernya. Karena umunya pada saat recharge tidak bisa dilakukan didalam unit kamera. Rekomendasi saya, beli batere rechargable kapasitas min. 2100mA. Beli 2 atau 3 kali dari kebutuhan slot kamera anda. Misalnya kamera anda butuh 2 batere, maka beli setidaknya 4 batere. Namun kamera pocket yang slim biasanya tidak mendukung batere jenis ini. Kamera slim biasanya menggunakan dedicated batere lithium rechargable. Teknologinya jelas lebih advanced dan kapasitas bisa lebih besar meski ukuran baterenya slim dan kecil (rata rata bentuknya seperti batere hp).
Charger / isi ulang bisa dilakukan langsung dalam unit kamera atau telah disediakan charger unit terpisah pada saat membeli.

4. Ergonomic
Bentuk kamera sangat menentukan nyaman tidaknya anda ketika sedang memotret. Beberapa kamera terasa tidak nyaman terutama ketika menekan shutter. Sehingga hasilnya sering tidak fokus / blur. Pastikan kamera bisa tetap mantap dalam genggaman ketika jari kita menekan tombol shutter.

5. Media Simpan
Pilihan memory card biasanya untuk anda yang budget oriented. Bila anda telah mempunyai gadget lain yang menggunakan keping memori sebagai media simpan, akan lebih ekonomis bila pilihan kamera anda menggunakan jenis memori yang sama. Jenis yang paling umum digunakan dalam gadget elektronik secara umum adalah : SDcard, MsDuo dan CF. Masalah harga relatif, namun SDcard paling murah.

Cukup lima hal itu yang menurut saya utama harus anda pertimbangkan dalam memilih kamera. Saya mengasumsikan bahwa calon pilihan anda adalah merk kamera yang umum. Fungsi dan feature lainnya seperti ISO, speed shutter, scene mode, program dan manual mode rasanya hampir sama antar merk sekarang ini.

Jangan terlalu mempertimbangkan resolusi pixel size. Sebenarnya kamera 6 mpixel sudah sangat mencukupi bagi kualitas foto yang akan dihasilkan. Lagipula semakin besar resolusi, semakin lamban proses saving ke memori. Sehingga akan terasa lamban untuk anda yang mengutamakan kecepatan.

Dari puluhan review dan testimonial yang saya baca di internet, secara umum gambaran utama kelebihan dari beberapa merk yang sering saya baca adalah :

Canon = fokus yang cepat
Nikon = pengukuran pencahayaan yang akurat
Olympus = ergonomic yang nyaman dan kokoh
Kodak = ekonomis tanpa mengorbankan image quality
Sony = unggul di ruangan yang kurang cahaya
Fuji = warna yang cerah

Semoga bermanfaat !

Produsen kamera yang terkenal

CANON, NIKON, OLYMPUS, KODAK, FUJI adalah beberapa nama produsen kamera yang telah lama dikenal oleh kalangan umum bila berbicara tentang kamera dan dunia fotografi.
Sejarah juga mencatat beberapa nama lain yang juga melegenda seperti PENTAX, KONICA MINOLTA, FUJI, RICOH.
Ada juga yang telah lama berkecimpung dalam dunia fotografi namun lebih dikenal oleh kalangan profesional seperti LEICA, ROLLEI, HASSELBALD, AGFA dan CONTAX. Beberapa diantaranya tenggelam atau mati dikarenakan kalah populer dan kalah bersaing harga, meski secara kualitas produknya sangat baik.
Beberapa branded lain datang dari beberapa raksasa elektronik yang nampaknya tertarik dengan kemajuan teknologi digital dunia fotografi, seperti SONY, SAMSUNG, CASIO dan SANYO.
SONY dan SAMSUNG adalah dua kandidat potensial yang dapat menjadi pesaing serius bagi pemain lama, dikarenakan dari merekalah selama ini tehnologi image processing yang menjadi jantung bagi kamera digital berasal.

Jadi, merk mana yang akan anda pilih ? Silahkan baca artikel lainnya di blog ini.

The Magic of Digital Photography

“Jangan lupa bawa Kamdig buat foto foto ya? Punya Pocket kan?  Memcard nya jangan lupa dibawa”

Hmm, kamdig? istilah yang sudah umum kita dengar saat ini. Kamdig, singkatan dari kamera digital, sebuah gadget yang nyaris ‘standar’ bagi kebanyakan orang saat ini.

Pocket? kantong maksudnya? bukan, pocket disini maksudnya adalah pocket size camera, merujuk pada ukuran kamera digital yang bisa dibawa dalam kantong baju kita saking kecilnya.

Memcard, alias memory card, media penyimpanan data, istilah lain yang hampir selalu terlintas bila kita membahas mengenai kamera digital.

Ya, tehnologi telah membawa revolusi dalam dunia fotografi. Jaman kamera dengan roll film sebagai media simpan telah berlalu. Kini tidak perlu lagi membawa tas kamera yang lumayan besar. Cukup masukkan ke dalam kantong baju kita. Tak perlu lagi membeli roll film negatif setiap kali bertamasya. Cukup masukkan kartu memory kedalam kamera anda. Mungkin hanya batere yang anda butuhkan sebagai instant backup bila batere di kamera anda telah habis energinya.

Ya, kini fotografi bukan lagi monopoli mat kodak alias juru potret, everybody can easily take picture now, anytime anywhere. So, fotografi telah menjadi hobi yang relatif mudah untuk ditekuni oleh semua kalangan. Fun and easy, just Point and Shoot!

Point and Shoot? Ya, saking mudahnya sehingga anda tinggal tentukan (pointing) objek yang akan anda potret, lalu shoot! tembakkan kamera anda. Sebuah foto akan tersimpan dalam memori kamera anda. Tidak usah pusing soal pencahayaan, bukaan lensa dan segala tetek bengek teknik potret, karena semuanya telah diukur dan ditentukan otomatis oleh kamera anda. Tinggal Jepret!

Tertarik ? Tapi bingung kamera digital mana yang akan anda beli ? Disini anda akan dapatkan info yang mungkin berguna bagi anda. Silahkan lanjutkan membaca. Semoga bermanfaat !

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.